haruskah seperti al-fatihah dalam shalat
wajib kuulangi mentilawahkan keteguhan pengabdian
yang kau deklarasikan sebagai keremangan
dan nenek pun tak mau meminta-mintanya pada kakek
“apakah gunung masih tinggi, apakah laut masih asin?
karena sudah lama tak kusihir asam dan garam
dengan kelontang kuali
ini bukan milikmu yang kupinjam
yang kau harus kau tanya-tanyakan,
karena takut rusak, hilang
atau dilarikan kucing
tapi ini punya kita, dinda
maka seperti sorakkan pecinta alam
kita sorakkan:
“bersama kita jaga dan lestarikan
suaka marga cinta kita
Senin, 29 Maret 2010
Untung Ora Nganggo Kathok
Pas dina minggu rina adikku dikongkon ibu ngunduh klopo kanggo ngawe kolak, kuwi biasa wong pancen bocahe tomboy jee...
Ngene undangaane ibu,
"Rin, aku undhuhno klopo kanggo kolak mengko."
"Yooo bu mariki," jawape rina.
Sedhelo engkas rina menyang buri saperlu menek wit klopo, bareng tekan nduwur deweke njeblokke klopo siji-siji{blak -bluk ] swarane. Gaekagete bocah lanang-lanang ing ngisore sing lagi jagongan. Banjur cah lanang-lanang moro kanti ndangak, trus rina nakoni,
"Hee, kowe gelem klopo ta? opo degan?"
Cah lanang-lanang ora jawab, tapi tetep ndagaak karo koyok nggumun ngono. Terus rina malah bingung lan mudhun mlebu omah karo takon ibune,
"Bu, cah lanang- lanang mau nang ngisorku lapo yoo, wong tak twani klopo emoh, tak tawani degan yo emoh, tapi tetep nang ngisor karo ndangak ngono?"
"O,pancenkowe cah bodho ngono kuwi nginceng kathokmu, ndhuk-ndhuk!" jawab ibuke.
Kanti roso seneng lan bungah tenan rina ngomong marang ibune,
"Oalah yoo SELAMET TENAN, BU AKU MAU LALI ORA KATHOKAN NGONO...!"
Ibune dadi tolah toleh,
"????????"
Ngene undangaane ibu,
"Rin, aku undhuhno klopo kanggo kolak mengko."
"Yooo bu mariki," jawape rina.
Sedhelo engkas rina menyang buri saperlu menek wit klopo, bareng tekan nduwur deweke njeblokke klopo siji-siji{blak -bluk ] swarane. Gaekagete bocah lanang-lanang ing ngisore sing lagi jagongan. Banjur cah lanang-lanang moro kanti ndangak, trus rina nakoni,
"Hee, kowe gelem klopo ta? opo degan?"
Cah lanang-lanang ora jawab, tapi tetep ndagaak karo koyok nggumun ngono. Terus rina malah bingung lan mudhun mlebu omah karo takon ibune,
"Bu, cah lanang- lanang mau nang ngisorku lapo yoo, wong tak twani klopo emoh, tak tawani degan yo emoh, tapi tetep nang ngisor karo ndangak ngono?"
"O,pancenkowe cah bodho ngono kuwi nginceng kathokmu, ndhuk-ndhuk!" jawab ibuke.
Kanti roso seneng lan bungah tenan rina ngomong marang ibune,
"Oalah yoo SELAMET TENAN, BU AKU MAU LALI ORA KATHOKAN NGONO...!"
Ibune dadi tolah toleh,
"????????"
Sabtu, 27 Maret 2010
Poster, Iklan, dan Slogan
POSTER
Lembaran pengumuman atau iklan yang dipasang di tempat umum yang biasanya disertai gambar.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia : Poster plakat yang dipasang di tempat umum (berupa pengumuman atau iklan) dengan dan tulisan gambar yang mencolok.
Pemasangan poster :
Biasanya di tempat umum, seperti : terminal, stasiun, pasar, rumah sakit, dan sebagainya. Ditempelkan di dinding atau tembok. Dipasang di pinggir-pinggir jalan.
Tujuannya :
Agar sesuatu yang ada dalam poster itu dapat diketahui umum. Menjadikan masyarakat umum tertarik untuk membeli, memakai, atau mengikuti isi poster tersebut.
Bahasa poster :
1.Singkat
2.Jelas
3.Efektif
4.Mudah dimengerti
5.Menarik perhatian pembaca.
Prinsip penyusunan poster :
1.Kalimat dan gambar yang dipilih sesuai dengan tujuan penulisan poster.
2.Kalimat dalam poster bersifat mempengaruhi sehingga harus menggunakan kata yang menarik.
3.Kata-kata yang digunakan singkat dan padat agar orang lebih mudah mengingat dan mudah memahaminya dalam waktu yang singkat.
4.Dilengkapi dengan gambar agar dapat diketahui khalayak dengan cepat dan menarik. Gambar akan mendukung kalimat poster sehingga tidak perlu kalimat yang banyak gambar sudah mewakili poster.
Berdasarkan isinya, poster dibagi menjadi :
1. Poster kegiatan : Bertujuan memberitahukan adanya suatu kegiatan dan mengajak pembaca mengikuti atau berpartisipasi dalam megaton tersebut.
2. Poster penerangan atau pendidikan : Bersifat mempengaruhi pembaca untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu.
3. Poster hiburan : Berisi pemberitahuan adanya sesuatu hal yang bersifat hiburan.
4. Poster niaga : Bersifat menarik pembaca untuk membeli atau menggunakan suatu barang atau jasa.
IKLAN
Bentuk komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi secara menarik. Tujuannya untuk mempengaruhi khalayak. Sasarannya masyarakat luas yang jumlahnya tak dapat ditentukan dan tinggalnya berpencar-pencar. Digunakan untuk menyampaikan gagasan, produk, atau jasa.
Ditinjau dari isinya, suatu iklan harus :
1. Objektif dan jujur
2. Menarik
3. Singkat dan jelas
4. Tidak bertentangan dengan SARA.
Dari segi bahasa, iklan harus :
1. Mudah dipahami
2. Mudah diingat
3. Persuasif / mempengaruhi
4. Menimbulkan kepenasaran masyarakat luas.
Ciri-ciri iklan :
1.Informatif
2.Komunikatif
3.Bahasa singkat dan padat
4.Menarik
Macam – Macam Iklan :
*Iklan penawaran : Disusun dengan menggunakan kata-kata pilihan yang berkonotasi baik, memikat, dan sugestif.
*Iklan pengumuman : Disusun untuk memberitahukan atau mengumumkan sesuatu kepada khayalak ramai.
*Iklan reklame : Disusun dengan menggunakan media di tempat terbuka sehingga mudah dilihat khalayak ramai. Kalimat reklame biasanya memuji produk dengan semboyan dan bersifat sugestif.
SLOGAN
Perkataan atau kalimat yang menarik atau mencolok dan mudah diingat untuk menjelaskan tujuan suatu ideologi, golongan, organisasi, partai politik, dan sebagainya.
Bersifat untuk membangkitkan semangat suatu prinsip hidup.
Kalimat slogan :
Singkat penuh makna
Contoh :
1.Pemuda sehat, negara kuat.
2.Sekali merdeka, tetap merdeka.
3.Jagalah sehatmu sebelum sakitmu.
4.Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.
5.Kelas bersih, hati jernih.
Lembaran pengumuman atau iklan yang dipasang di tempat umum yang biasanya disertai gambar.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia : Poster plakat yang dipasang di tempat umum (berupa pengumuman atau iklan) dengan dan tulisan gambar yang mencolok.
Pemasangan poster :
Biasanya di tempat umum, seperti : terminal, stasiun, pasar, rumah sakit, dan sebagainya. Ditempelkan di dinding atau tembok. Dipasang di pinggir-pinggir jalan.
Tujuannya :
Agar sesuatu yang ada dalam poster itu dapat diketahui umum. Menjadikan masyarakat umum tertarik untuk membeli, memakai, atau mengikuti isi poster tersebut.
Bahasa poster :
1.Singkat
2.Jelas
3.Efektif
4.Mudah dimengerti
5.Menarik perhatian pembaca.
Prinsip penyusunan poster :
1.Kalimat dan gambar yang dipilih sesuai dengan tujuan penulisan poster.
2.Kalimat dalam poster bersifat mempengaruhi sehingga harus menggunakan kata yang menarik.
3.Kata-kata yang digunakan singkat dan padat agar orang lebih mudah mengingat dan mudah memahaminya dalam waktu yang singkat.
4.Dilengkapi dengan gambar agar dapat diketahui khalayak dengan cepat dan menarik. Gambar akan mendukung kalimat poster sehingga tidak perlu kalimat yang banyak gambar sudah mewakili poster.
Berdasarkan isinya, poster dibagi menjadi :
1. Poster kegiatan : Bertujuan memberitahukan adanya suatu kegiatan dan mengajak pembaca mengikuti atau berpartisipasi dalam megaton tersebut.
2. Poster penerangan atau pendidikan : Bersifat mempengaruhi pembaca untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu.
3. Poster hiburan : Berisi pemberitahuan adanya sesuatu hal yang bersifat hiburan.
4. Poster niaga : Bersifat menarik pembaca untuk membeli atau menggunakan suatu barang atau jasa.
IKLAN
Bentuk komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi secara menarik. Tujuannya untuk mempengaruhi khalayak. Sasarannya masyarakat luas yang jumlahnya tak dapat ditentukan dan tinggalnya berpencar-pencar. Digunakan untuk menyampaikan gagasan, produk, atau jasa.
Ditinjau dari isinya, suatu iklan harus :
1. Objektif dan jujur
2. Menarik
3. Singkat dan jelas
4. Tidak bertentangan dengan SARA.
Dari segi bahasa, iklan harus :
1. Mudah dipahami
2. Mudah diingat
3. Persuasif / mempengaruhi
4. Menimbulkan kepenasaran masyarakat luas.
Ciri-ciri iklan :
1.Informatif
2.Komunikatif
3.Bahasa singkat dan padat
4.Menarik
Macam – Macam Iklan :
*Iklan penawaran : Disusun dengan menggunakan kata-kata pilihan yang berkonotasi baik, memikat, dan sugestif.
*Iklan pengumuman : Disusun untuk memberitahukan atau mengumumkan sesuatu kepada khayalak ramai.
*Iklan reklame : Disusun dengan menggunakan media di tempat terbuka sehingga mudah dilihat khalayak ramai. Kalimat reklame biasanya memuji produk dengan semboyan dan bersifat sugestif.
SLOGAN
Perkataan atau kalimat yang menarik atau mencolok dan mudah diingat untuk menjelaskan tujuan suatu ideologi, golongan, organisasi, partai politik, dan sebagainya.
Bersifat untuk membangkitkan semangat suatu prinsip hidup.
Kalimat slogan :
Singkat penuh makna
Contoh :
1.Pemuda sehat, negara kuat.
2.Sekali merdeka, tetap merdeka.
3.Jagalah sehatmu sebelum sakitmu.
4.Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.
5.Kelas bersih, hati jernih.
Senin, 15 Maret 2010
Menabrak Setan dan Ditabrak Setan
Ini kejadian nyata yang dialami teman saya. Sebut saja namanya Rudy. Di suatu malam Rudy sedang berjalan menyusuri jalanan yang sempit dan gelap. Saat itu dia memakai baju hitam, sehingga dia hampir tidak kelihatan.
Saat itu juga dari arah berlawanan melaju sepeda yang dikendarai oleh Arto (bukan nama sebenarnya). Waktu itu, Arto memakai baju warna putih. Tabrakan pun tak terhindarkan. Duaaarrr... gubrakkkkkk... (biar seru hehehehe), Rudy langsung tergeletak dan tak sadarkan diri.
Sementara itu Si Arto langsung kabur karena dia berpikir yang ditabraknya tadi adalah setan. Keesokan harinya, Si Arto berniat menceritakan kejadian yang dialaminya semalam, ya tentang "menabrak setan".
Setelah sampai di sekolah telah berkumpul teman2nya dan salah satunya adalah Rudy yang tangan dan kakinya masih ada lecet-lecet akibat tabrakan. Ternyata, Si Rudy lagi serunya menceritakan kepada teman2nya kalo semalam dia "ditabrak oleh setan...".
Sekarang, Arto baru tahu kalo semalam yang ditabtraknya itu bukan setan, melainkan temannya, Rudy. Tetapi Si Rudy tidak tahu tentang "setan" yang menabraknya. Sampai sekarang pun Rudy masih suka menceritakan kejadian "ditabrak setan" kepada teman-temannya (Si Rudy menganggap ini cerita yang seru hehehe, kacian Si Rudy).
Sampai kapan rahasia ini akan dijaga oleh Arto dan beberapa temannya yang mengetahui kejadian aslinya? Dan apa yang akan terjadi kalau sampai Si Rudy mengetahui kejadian yang sebenarnya?
Saat itu juga dari arah berlawanan melaju sepeda yang dikendarai oleh Arto (bukan nama sebenarnya). Waktu itu, Arto memakai baju warna putih. Tabrakan pun tak terhindarkan. Duaaarrr... gubrakkkkkk... (biar seru hehehehe), Rudy langsung tergeletak dan tak sadarkan diri.
Sementara itu Si Arto langsung kabur karena dia berpikir yang ditabraknya tadi adalah setan. Keesokan harinya, Si Arto berniat menceritakan kejadian yang dialaminya semalam, ya tentang "menabrak setan".
Setelah sampai di sekolah telah berkumpul teman2nya dan salah satunya adalah Rudy yang tangan dan kakinya masih ada lecet-lecet akibat tabrakan. Ternyata, Si Rudy lagi serunya menceritakan kepada teman2nya kalo semalam dia "ditabrak oleh setan...".
Sekarang, Arto baru tahu kalo semalam yang ditabtraknya itu bukan setan, melainkan temannya, Rudy. Tetapi Si Rudy tidak tahu tentang "setan" yang menabraknya. Sampai sekarang pun Rudy masih suka menceritakan kejadian "ditabrak setan" kepada teman-temannya (Si Rudy menganggap ini cerita yang seru hehehe, kacian Si Rudy).
Sampai kapan rahasia ini akan dijaga oleh Arto dan beberapa temannya yang mengetahui kejadian aslinya? Dan apa yang akan terjadi kalau sampai Si Rudy mengetahui kejadian yang sebenarnya?
Kisah Naik Bemo
Saat itu aku masih kuliah, sambil kuliah aku bekerja sebagai tenaga pengajar di salah satu sekolah favorit di kota pahlawan.
Kebetulan hari itu adalah hari Jum"at sehingga jadwalku mengajar hanya sampai jam 11.30 WIB, seperti biasa aku sholat jum"at di masjid terdekat, setelah selesai aku buru-buru langsung pulang ke tempat kost-ku karena jam 2 aku ada jadwal UAS.
Waktu itu aku masih belum mempunyai kendaraan sendiri, sehingga aku harus naik angkutan umum untuk berangkat dan pulang kerja.
Tanpa buang waktu aku segera mencegat bemo yang kebetulan sedang penuh dengan penumpang, aku duduk di pojok, karena penuh dan sesak menyebabkan suasana yang panas menjadi bertambah panas sehingga keringatpun bercucuran.
Segera saja aku mengeluarkan saputangan dari saku celanaku untuk menyeka keringat, saat menyeka keringat itulah penumpang yang duduk didepanku berkata "wah,sapu tangan baru ya mas" sambil menutup hidungya.
"Iya memang baru pak aku baru beli tadi pagi" jawabku penuh percaya diri.
Tiba-tiba orang disebelah ku juga nyeletuk. "wah, kalau model baru jangan dipamerin gitu dong mas, khan kasihan yang lain jadi iri".
Aku jadi heran, "memangnya ada apa" ? Aku lihat sekeliling ternyata hampir semua penumpang menutup hidung.
Aku jadi bertambah gugup dan ternyata saat itulah aku tersadar bahwa kain yang kugunakan untuk menyeka keringatku itu ternyata kaos kaki dekil dan bau yang memang sengaja tidak aku pakai setelah sholat jum'at , karena baunya.
"Duh" dalam hatiku berkata. Tanpa banyak pikir segera aku tekan bel untuk meminta sopir berhenti.
Bemo pun menepi, saat aku keluar itulah penumpang yang lain tersenyum melihatku dan sialnya lagi karena terburu-buru aku jatuh terjengkang dan terguling dari atas bemo, maka meledaklah tawa seluruh penumpang bemo tersebut. Tinggal aku yang cepat-cepat bayar tanpa pedulikan uang kembalian. Oalah..
Kebetulan hari itu adalah hari Jum"at sehingga jadwalku mengajar hanya sampai jam 11.30 WIB, seperti biasa aku sholat jum"at di masjid terdekat, setelah selesai aku buru-buru langsung pulang ke tempat kost-ku karena jam 2 aku ada jadwal UAS.
Waktu itu aku masih belum mempunyai kendaraan sendiri, sehingga aku harus naik angkutan umum untuk berangkat dan pulang kerja.
Tanpa buang waktu aku segera mencegat bemo yang kebetulan sedang penuh dengan penumpang, aku duduk di pojok, karena penuh dan sesak menyebabkan suasana yang panas menjadi bertambah panas sehingga keringatpun bercucuran.
Segera saja aku mengeluarkan saputangan dari saku celanaku untuk menyeka keringat, saat menyeka keringat itulah penumpang yang duduk didepanku berkata "wah,sapu tangan baru ya mas" sambil menutup hidungya.
"Iya memang baru pak aku baru beli tadi pagi" jawabku penuh percaya diri.
Tiba-tiba orang disebelah ku juga nyeletuk. "wah, kalau model baru jangan dipamerin gitu dong mas, khan kasihan yang lain jadi iri".
Aku jadi heran, "memangnya ada apa" ? Aku lihat sekeliling ternyata hampir semua penumpang menutup hidung.
Aku jadi bertambah gugup dan ternyata saat itulah aku tersadar bahwa kain yang kugunakan untuk menyeka keringatku itu ternyata kaos kaki dekil dan bau yang memang sengaja tidak aku pakai setelah sholat jum'at , karena baunya.
"Duh" dalam hatiku berkata. Tanpa banyak pikir segera aku tekan bel untuk meminta sopir berhenti.
Bemo pun menepi, saat aku keluar itulah penumpang yang lain tersenyum melihatku dan sialnya lagi karena terburu-buru aku jatuh terjengkang dan terguling dari atas bemo, maka meledaklah tawa seluruh penumpang bemo tersebut. Tinggal aku yang cepat-cepat bayar tanpa pedulikan uang kembalian. Oalah..
Setan Kerasukan Manusia
Ini cerita benar-benar terjadi... yang gue tau dari temen gue.... dia juga heran ternyata bisa yah, SETAN kemasukan ORANG ???
Kejadiannya sih dah lama.... tahun kemaren di daerah manggarai.....
Storynya begini......
Si Yaman (temen gue) punya temen cewek namanya Siti. Suatu malem mereka berdua pergi ke kondangan seorang temenya lagi.
Dijalan, kedua orang ini dapet musibah kecelakaan, Alias diserempet metromini.
Yaman jatuh dan Siti juga jatuh. Otomatis warga sekitar yang melihat kejadian, langsung pada nolongin.
Dibawa lah mereka berdu ke tempat yang lebih aman.
Dirumah seorang warga sekitar.... Yaman sih baik-baik saja. Tapi si Siti pingsan.
15 menit berlalu.... Siti belom bangun juga.
Tiba-tiba Siti bangun...Lalu berteriak-teriak sama orang banyak. "Gue MAU KELUAR !!!....Gue MAU KELUAR !!!"
semua orangpun panik..... Ada yang bilang si Siti kesurupan/kemasukan/kerasukan SETAN.....
Anehnya kenapa setan bilang Gue mau keluar ???
Anehnya lagi dia bilang "TOLONGIN Gue !!! Gue MAO KELUAR !!! NIH CEWEK JELEK BANGET SIH !!!!???"
Masa sih SETAN kerasukan ORANG ???? Pikir Yaman....
Kalau diliat dari tampang siti sih ???.... setan itu memang jujur banget.
Kata temen gue....Siti emang bukan cewek cantik dan juga bukan cewek yang lumayan.
Setelah itu Siti pingsan lagi.... dan bangun lagi dengan terheran-terheran....
Yang Menjadi pertanyaannya, " Lalu bagamiana Tampang Siti sebenarnya?, setan aja Bilang NIH CEWEK JELEK BANGET SIH !!!" HEHEHE...
Kejadiannya sih dah lama.... tahun kemaren di daerah manggarai.....
Storynya begini......
Si Yaman (temen gue) punya temen cewek namanya Siti. Suatu malem mereka berdua pergi ke kondangan seorang temenya lagi.
Dijalan, kedua orang ini dapet musibah kecelakaan, Alias diserempet metromini.
Yaman jatuh dan Siti juga jatuh. Otomatis warga sekitar yang melihat kejadian, langsung pada nolongin.
Dibawa lah mereka berdu ke tempat yang lebih aman.
Dirumah seorang warga sekitar.... Yaman sih baik-baik saja. Tapi si Siti pingsan.
15 menit berlalu.... Siti belom bangun juga.
Tiba-tiba Siti bangun...Lalu berteriak-teriak sama orang banyak. "Gue MAU KELUAR !!!....Gue MAU KELUAR !!!"
semua orangpun panik..... Ada yang bilang si Siti kesurupan/kemasukan/kerasukan SETAN.....
Anehnya kenapa setan bilang Gue mau keluar ???
Anehnya lagi dia bilang "TOLONGIN Gue !!! Gue MAO KELUAR !!! NIH CEWEK JELEK BANGET SIH !!!!???"
Masa sih SETAN kerasukan ORANG ???? Pikir Yaman....
Kalau diliat dari tampang siti sih ???.... setan itu memang jujur banget.
Kata temen gue....Siti emang bukan cewek cantik dan juga bukan cewek yang lumayan.
Setelah itu Siti pingsan lagi.... dan bangun lagi dengan terheran-terheran....
Yang Menjadi pertanyaannya, " Lalu bagamiana Tampang Siti sebenarnya?, setan aja Bilang NIH CEWEK JELEK BANGET SIH !!!" HEHEHE...
Obama Takut di Sunat
Bulan Agustus kemarin, aku dapat rizki besar. Rp 30 juta masuk kantong, komisi hasil makelarin tanah pak Haji Uding di Empang Tiga, Pasar Minggu. Karena itu duit cipratan, aku pun berpikir gampang untuk menghabiskannya. Ah, daripada puyeng mikir suksesi 2009 mending jalan-jalan ke Amrik.
Pilihanku pingin lihat kota Washington DC. Mengapa Washington? Karena kota ini adalah pusat pemerintahan negeri super kuat. Disamping itu, kali-kali aja ketemu Obama yang lagi getol unjuk diri.
Rencana perjalananku sudah mantap, besok paginya aku ke USA Embassy di Jalan Merdeka Selatan. Alhamdullilah, setelah diinterview jam 3 sore visa turisku keluar. Besoknya lagi, pesan tiket dan 5 hari kemudian aku take off dengan Singapore Airlines dari Bandara Soekarno-Hatta, straight ke Washington.
Dari kota tua inilah, miracle itu datang. Tanpa sengaja aku ketemu adik tiri Barrack Hussein Obama, Maya Soetoro di sebuah cafe bernuansa Hispanik. Sosok Maya kini mulai famous, karena sering muncul di media massa. Singkat cerita aku pun memperkenalkan diri dari Indonesia, "Hi Maya, I am Agus Bopak from Indonesia."
"Hey, glad to meet u gus," seru Maya. Hebat, suasana pun langsung jadi akrab. Dari wajah memang aku sudah bisa tebak, karakter Maya gampang akrab dengan siapa saja. Kami pun bertukar pikiran sedikit tentang situasi politik di Indonesia dan peluang Obama menggapai kursi presiden Amerika. Baru sekitar setengah jam ngobrol, tiba-tiba ada suara berat dari belakang menyapa,"Maya, sorry...too late!"
Karena terkejut, aku pun menoleh ke belakang. Wow, ini kan Obama (aku ngomong sendiri). Singkat cerita lagi, kami bertiga aku, Obama dan Maya, makin akrab.
Pada satu momen tertentu aku bertanya pada Obama, "Barry (panggilan akrab keluarganya untuk Obama), kehebatan retorika anda selain bakat, apakah anda pernah dilatih khusus pidato?"
"Ha...ha...whuahahahah...whuahaahah...whuahahaha (busyet deh, mulut Obama yang besar itu menganga lebar. Dagunya memanjang, matanya memerah, menyipit dan berair. Perutnya yang rata pun bergetar dan bergoyang kencang)," Dia tertawa terbahak-bahak, gelinya minta ampun. Sampai-sampai capres Amerika yang lahir 4 Agustus 1961 itu, ke toilet mencuci muka, karena ilernya kemana-mana.
Dari toilet, dia menghampiri aku dan berkata setengah suara, seperti berbisik sambil menepuk kuat bahu aku. "Hey Bung! Aku banyak belajar retorika dari SBY. Dia itu mahir memainkan kata-kata. Dia itu orator hebat! Pokoknya Gus (Obama sok akrab sama aku), pemimpin di negeri kamu rata-rata jago pidato."
Aku pun sok akrab,"Oba, if u want...kamu bisa nyapres di Jakarta!"
"Ogah ah! (Syet dah, dia bisa bilang 'ogah') Aku mesti sunat dulu dong..."
Pilihanku pingin lihat kota Washington DC. Mengapa Washington? Karena kota ini adalah pusat pemerintahan negeri super kuat. Disamping itu, kali-kali aja ketemu Obama yang lagi getol unjuk diri.
Rencana perjalananku sudah mantap, besok paginya aku ke USA Embassy di Jalan Merdeka Selatan. Alhamdullilah, setelah diinterview jam 3 sore visa turisku keluar. Besoknya lagi, pesan tiket dan 5 hari kemudian aku take off dengan Singapore Airlines dari Bandara Soekarno-Hatta, straight ke Washington.
Dari kota tua inilah, miracle itu datang. Tanpa sengaja aku ketemu adik tiri Barrack Hussein Obama, Maya Soetoro di sebuah cafe bernuansa Hispanik. Sosok Maya kini mulai famous, karena sering muncul di media massa. Singkat cerita aku pun memperkenalkan diri dari Indonesia, "Hi Maya, I am Agus Bopak from Indonesia."
"Hey, glad to meet u gus," seru Maya. Hebat, suasana pun langsung jadi akrab. Dari wajah memang aku sudah bisa tebak, karakter Maya gampang akrab dengan siapa saja. Kami pun bertukar pikiran sedikit tentang situasi politik di Indonesia dan peluang Obama menggapai kursi presiden Amerika. Baru sekitar setengah jam ngobrol, tiba-tiba ada suara berat dari belakang menyapa,"Maya, sorry...too late!"
Karena terkejut, aku pun menoleh ke belakang. Wow, ini kan Obama (aku ngomong sendiri). Singkat cerita lagi, kami bertiga aku, Obama dan Maya, makin akrab.
Pada satu momen tertentu aku bertanya pada Obama, "Barry (panggilan akrab keluarganya untuk Obama), kehebatan retorika anda selain bakat, apakah anda pernah dilatih khusus pidato?"
"Ha...ha...whuahahahah...whuahaahah...whuahahaha (busyet deh, mulut Obama yang besar itu menganga lebar. Dagunya memanjang, matanya memerah, menyipit dan berair. Perutnya yang rata pun bergetar dan bergoyang kencang)," Dia tertawa terbahak-bahak, gelinya minta ampun. Sampai-sampai capres Amerika yang lahir 4 Agustus 1961 itu, ke toilet mencuci muka, karena ilernya kemana-mana.
Dari toilet, dia menghampiri aku dan berkata setengah suara, seperti berbisik sambil menepuk kuat bahu aku. "Hey Bung! Aku banyak belajar retorika dari SBY. Dia itu mahir memainkan kata-kata. Dia itu orator hebat! Pokoknya Gus (Obama sok akrab sama aku), pemimpin di negeri kamu rata-rata jago pidato."
Aku pun sok akrab,"Oba, if u want...kamu bisa nyapres di Jakarta!"
"Ogah ah! (Syet dah, dia bisa bilang 'ogah') Aku mesti sunat dulu dong..."
Filmnya Serem-serem
GILAA…!! Kejadian ini emang bener-benar terjadi…!!
Kira-kira 3 mingguan yang lalu…tepatnya lagi waktu pelajaran kuliahnya Pak Arief..yaitu mata kuliah Perancangan Pesawat Terbang…!!
Waktu di dalam kelas…waktu dosen lagi jelasin materi kuliah pake Laptop and layar viewer...tiba-tiba temen ku Jay berkata padaku…"tadi aku ada nyimpan pilem Bokep lho, dimana…??" Kataku dengan suara pelan…karena aku lagi konsen memerhatikan Dosen ngajar…
Temanku Jay langsung menjawab…"ada di Flash nya Gobel nih…karena kemarennya Jay minjem flashdisk nya Gobel tuk nyimpan data-data…tapi Gobel lagi gak tau klo flashnya di isi pilem gituan ama Si Jay…"
Nah…!! waktu jam kuliah udah selesai…temenku Gobel yang empunya flashdisk itu..bilang ke Jay.."Jay..mana flash ku, aku mau minta materinya Pak Arief"…lalu di berinya flash itu ke Gobel…
Lalu dengan pede nya Gobel berkata pada dosen.."Pak..boleh minta materinya tadi di Copy ke flash saya"… lalu dosen pun mencolokkan flash itu ke laptop…
Lalu aku langsung teringat…biasanya..klo pak Arief akan memberikan materinya, pasti dia 'meng-copy' langsung ke flash…bukan nya di 'send to' ke flash..
Apalagi si Jay tadi bilang padaku kalau dia ada nyimpan pilem gituan di flashnya Gobel…akupun langsung berpikir.."wahh..bisa berabe nih urusan…."
Ternyata benar…!! Setelah file materinya di copy di flashnya Gobel..otomatis pilem nya pun bisa terlihat… Dan dosen kami pun berkata…."wah-wah Gobel…judul pilemnya serem-serem banget…"
Mendengar perkataan dosen…Gobel pun bingung…"Apanya pak….??"
Lalu dosen ku berkata lagi… "Nih ada 'Amira Menikmati Sampai Kepuasan Terakhir'..'Hot Sex'…dll…"
Dan pada waktu itu juga temen-temen di kelas pada terheran…apalagi yang cewek..pada tersenyum malu-malu mau…(ha..3x)…!!
Aku dan si Jay pun langsung lari keluar ruangan kelas…dan langsung melepaskan tawa yang terbahak-bahak….dan saking gak tahannya aku ketawa sambil terbatuk-batuk….Otomatis kan Gobel yang malu sendiri…walaupun dia udah bela-belain bilang "Bukan aku…bukan aku…itu punya si Jay.."
Gila bener deh… untungnya lagi…layar Viewer udah di matiin.. jadi gak kelihatan deh pilemnya ama yang laen…!!
Kira-kira 3 mingguan yang lalu…tepatnya lagi waktu pelajaran kuliahnya Pak Arief..yaitu mata kuliah Perancangan Pesawat Terbang…!!
Waktu di dalam kelas…waktu dosen lagi jelasin materi kuliah pake Laptop and layar viewer...tiba-tiba temen ku Jay berkata padaku…"tadi aku ada nyimpan pilem Bokep lho, dimana…??" Kataku dengan suara pelan…karena aku lagi konsen memerhatikan Dosen ngajar…
Temanku Jay langsung menjawab…"ada di Flash nya Gobel nih…karena kemarennya Jay minjem flashdisk nya Gobel tuk nyimpan data-data…tapi Gobel lagi gak tau klo flashnya di isi pilem gituan ama Si Jay…"
Nah…!! waktu jam kuliah udah selesai…temenku Gobel yang empunya flashdisk itu..bilang ke Jay.."Jay..mana flash ku, aku mau minta materinya Pak Arief"…lalu di berinya flash itu ke Gobel…
Lalu dengan pede nya Gobel berkata pada dosen.."Pak..boleh minta materinya tadi di Copy ke flash saya"… lalu dosen pun mencolokkan flash itu ke laptop…
Lalu aku langsung teringat…biasanya..klo pak Arief akan memberikan materinya, pasti dia 'meng-copy' langsung ke flash…bukan nya di 'send to' ke flash..
Apalagi si Jay tadi bilang padaku kalau dia ada nyimpan pilem gituan di flashnya Gobel…akupun langsung berpikir.."wahh..bisa berabe nih urusan…."
Ternyata benar…!! Setelah file materinya di copy di flashnya Gobel..otomatis pilem nya pun bisa terlihat… Dan dosen kami pun berkata…."wah-wah Gobel…judul pilemnya serem-serem banget…"
Mendengar perkataan dosen…Gobel pun bingung…"Apanya pak….??"
Lalu dosen ku berkata lagi… "Nih ada 'Amira Menikmati Sampai Kepuasan Terakhir'..'Hot Sex'…dll…"
Dan pada waktu itu juga temen-temen di kelas pada terheran…apalagi yang cewek..pada tersenyum malu-malu mau…(ha..3x)…!!
Aku dan si Jay pun langsung lari keluar ruangan kelas…dan langsung melepaskan tawa yang terbahak-bahak….dan saking gak tahannya aku ketawa sambil terbatuk-batuk….Otomatis kan Gobel yang malu sendiri…walaupun dia udah bela-belain bilang "Bukan aku…bukan aku…itu punya si Jay.."
Gila bener deh… untungnya lagi…layar Viewer udah di matiin.. jadi gak kelihatan deh pilemnya ama yang laen…!!
Membeli Bakso Pedas
Kejadiannya sekitar 5th yang lalu, saya mempunyai seorang sepupu yang polos dari kampung dan lucu.
Ketika itu pada siang hari saya ingin makan yang segar-segar, tiba-tiba berbunyilah ketokan abang tukang bakso tok..tok..tok....
Lalu saya tanya sama sepupu saya, kamu mau bakso...dia jawab, ngga ah... masih kenyang, lalu saya bilang kalo gitu lo beliin gue bakso ya...dia jawab baik mas.
Lalu saya menyetop abang baksonya biar nga terlalu jauh perginya, lalu saya bilang sama sepupu saya dengan panggilan kerennya ambon, "MBON BELI BAKSO SATU AJA, PAKE MANGKOK JANGAN PAKE MIE, YANG PEDES"
Nggak lama dia pulang dengan membawa 'BAKSO SATU BUTIR YG BESAR DIDALAM MANGKOK ADA SAMBALNYA'
Saya heran "KUAH SAMA YANG LAINNYA MANA MBON?"
DIA JAWAB, "KAN TADI BILANGNYA BAKSO SATU AJA YG PEDES, YA SAYA BILANG SAMA TUKANGNYA SPT ITU"
PANTESAN ABANGNYA BINGUNG......SAYA JUGA BINGUNG MAS.HAHAHAHAHAA........GUBRAK.
Ketika itu pada siang hari saya ingin makan yang segar-segar, tiba-tiba berbunyilah ketokan abang tukang bakso tok..tok..tok....
Lalu saya tanya sama sepupu saya, kamu mau bakso...dia jawab, ngga ah... masih kenyang, lalu saya bilang kalo gitu lo beliin gue bakso ya...dia jawab baik mas.
Lalu saya menyetop abang baksonya biar nga terlalu jauh perginya, lalu saya bilang sama sepupu saya dengan panggilan kerennya ambon, "MBON BELI BAKSO SATU AJA, PAKE MANGKOK JANGAN PAKE MIE, YANG PEDES"
Nggak lama dia pulang dengan membawa 'BAKSO SATU BUTIR YG BESAR DIDALAM MANGKOK ADA SAMBALNYA'
Saya heran "KUAH SAMA YANG LAINNYA MANA MBON?"
DIA JAWAB, "KAN TADI BILANGNYA BAKSO SATU AJA YG PEDES, YA SAYA BILANG SAMA TUKANGNYA SPT ITU"
PANTESAN ABANGNYA BINGUNG......SAYA JUGA BINGUNG MAS.HAHAHAHAHAA........GUBRAK.
Kenangan Sahabat
Sekian lama kita bersama
Mengumbar segala canda dan tawa
Hingga kau putuskan semua
tali pengikat diantara kebersamaan kita
Kulihat kau tak lagi tersenyum saat bersamaku
Kulihat kau tak lagi tertawa saat didekatku
Mungkin senyumku tak berarti bagimu
Mungkin senyumku tak lagi tentramkan jiwamu
Kuinginkan kita yang dulu
Selalu bersama dalam suka maupun duka
Kuinginkan kita tetap bersatu
Dalam semua perbedaan ini
Mengumbar segala canda dan tawa
Hingga kau putuskan semua
tali pengikat diantara kebersamaan kita
Kulihat kau tak lagi tersenyum saat bersamaku
Kulihat kau tak lagi tertawa saat didekatku
Mungkin senyumku tak berarti bagimu
Mungkin senyumku tak lagi tentramkan jiwamu
Kuinginkan kita yang dulu
Selalu bersama dalam suka maupun duka
Kuinginkan kita tetap bersatu
Dalam semua perbedaan ini
Senin, 01 Februari 2010
HARI YANG MENYEDIHKAN SEMASA AKU HIDUP
Angin malam berhembus kencang, menggoyang batang-batang pepohonan tinggi yang berjajar di sepanjang kompleks Karanganyar. Daun-daun yang sudah berganti warna berjatuhan ke tanah yang basah dan dingin. Hari masih gelap, separuh bulan penuh muncul redup di langit, tertutup awan-awan tipis berarak dan kabut. Bintang-bintang haku berkerlap-kerlip tidak jelas, kadang muncul kemudian menghilang ditelan gelap malam. Sunyi, haku suara serangga-serangga yang keluar di malam hari dan bebrapa kelelawar di antara pepohonan Suasana Karanganyar malam ini jauh berbeda dengan suasana Kota Surakarta pada malam hari. Cahaya lampu di kota dan keramaian sepanjang malam seolah menggantikan bintang-bintang yang hadir di atas langit Kota Surakarta yang cerah malam itu. Karangakur memang terletak di timur Kota Surakarta.
Tidak seperti malam-malam biasanya, malam ini suasana Karanganyar benar-benar sepi. Malam-malam sebelumku, suasana Karanganyar tidak jauh berbeda dengan Kota Surakarta. Malam ini, haku sesekali terdengar suara mobil dan truck melaju dengan cepat di tengah dinginku malam musim penghujan di jalanan Karanganyar. Aku , malam itu terbangun pada pukul tiga malam di tengah-tengah waktu tidurku. Aku segera menyingkirkan selimut dari kakiku, mengambil segelas air putih di meja sebelah tempat tidurku, dan meneguknya dengan cepat. Segera setelah aku menaruh gelasku, aku berjalan menuju meja komputerku dan menyalakannya. Aku memutuskan untuk mebuka facebook dan akun e-mailku untuk mengecek e-mail dan pemberitahuan yang masuk. ”Dingin sekali...” gumamku. Sebantar lagi musim kemarau akan tiba, akhir musim penghujan kali ini udara sangat dingin. Kemungkinan hujan akan turun lebih awal tahun ini. Mataku menelusuri layar komputerku dan melihat-lihat kotak masukku. Hanya ada tiga e-mail baru yang masuk. Satu dari sahabatku, Indriyani, dan kedua dari Ariyanto, dan yang terakhir adalah dari temanku yang berada di Semarang. Aku membaca ketiganya dengan cepat. Beberapa kali angin dingin berhembus, seperti menembus tembok, masuk ke dalam kamarku di lantai dua rumah keluargaku. Aku menggigil dan berdiri, kemudian aku berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil jacket untuk menghangatkan diriku.
“Aneh, mengapa malam ini sepi sekali?” aku bergumam pada diriku sendiri. Tidak biasanya Karanganyar sepi pada malam hari. Setelah menemukan sebuah jaket, aku menggunakanya dan duduk kembali di meja komputerku. ”Pagi,Buk!” sapa Fajar pada ibuku dengan bersemangat. Aku agak pusing karena kurang tidur. Awan mendung menaungi langit Karanganyar pagi ini. Di luar rumahku, sudah banyak orang melakukan aktifitas pagi mereka. Sekedar jogging, bersepeda atau membersihkan halaman rumahnya. Suara sepatu mendekati pintu depan rumahku. Seorang pengantar koran seumuranku menaruh koran di depan pintu. Aku bergegas menuju pintu, koran itu segera kuambil dan dengan senyum aku mengucapkan terima kasih pada sang pengantar koran.Kubaca headline pagi ini. ”Presiden sedang Berada Di Denmark.” Aku segera masuk kembali ke dalam rumah dan menemukan ayahku tengah duduk di ruang makan, menyeruput tehnya. ”Hei, anakku, berikan itu padaku!” kata ayahku sambil menunjuk koran yang kubawa. ” Nih, Pak...” ucapku seraya menyerahkan koran yang kubawa pada Ayahku. Ibuku sedang memasak tempe dan tahu untuk sarapan di dapur, tepat di sebelah ruang makan.” Pagi Fajar, Pak...” sapa adikku, Uun, yang baru saja bangun. Disusul adikku yang paling kecil, Aan. Aan masih terlihat mengantuk, berkali-kali dia terlihat menguap hingga Ibuku menyuruhnya mencuci muka. ”Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini, Uun?” Kataku ”Baik, pergi dengan teman-temanku, mungkin. Kami akan ke rumah Adi sayang ini.” jawabku singkat. Aku menganggukan kepala mendengar jawaban Uun. Aku segera duduk saat ibuku menyajikan tempe dan tahu yang telah dibuatnya di meja makan. ” Aku pergi ke rumah Annis saja nanti,” pikirku menentukan rencana hari ini. Selesai sarapan, Aku bergegas menuju kamarku, berganti baju dan pergi keluar bersama Uun. Aku diantar dengan Sepeda menuju rumah Annis. Kemudian Uun pergi ke rumah temannya.
Malam itu, sekitar pukul enam sore, Aku diantar pulang oleh Annis ke rumahku. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Annis memacu mobilnya kembali ke rumahnya. Aku memasuki jalan setapak di pekarangan rumahku menuju pintu utama. Aku tiba-tiba merasakan firasat ada sesuatu yang tidak beres di dalam rumahku. Dengan segera aku berlari membuka pintu rumahku dan menyerbu masuk. Aku terkejut mendapati isi rumahku agak berantakan dan tidak dikunci tanpa ada seorangpun di rumah. Dengan panik aku berteriak memanggil-manggil keluargaku. ”Ibu, Ayah, Aan, Uun...” teriakku sambil memandang sekeliling rumahku yang luas setinggi dua lantai itu. Sunyi, tidak ada yang menjawab. ” Kemana mereka?” pikirku. Otakku telah dipenuhi pikiran-pikiran buruk. Bagaimana kalau Aan disekap? Apakah mereka terluka? Baru saja aku mau berlari menuju pintu untuk meminta bantuan, seseorang membekap mulutku dan menghantam bagian Pundakku dengan cukup keras. Pukulan terkeras yang pernah aku rasakan seumur hidupku. Aku merasakan pundakku sangat sakit dan berat, kemudian pandanganku mengabur perlahan. Sesaat sebelum pingsan aku sempat berpikir bahwa ini adalah akhir hidupku.
Di tempat lain, orang tuaku dan Aan, adikku, berusaha menelepon ke ponselku yang pada saat itu kumatikan. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah setelah sepanjang siang menghabiskan waktu di rumah salah satu teman Ayahku. ” Ayo, angkat ponselmu,Fajar Wahyu Ardianto!” ibuku mulai tidak tenang setelah berkali-kali mencoba menelepon, namun belum dijawab.” Mungkin Fajar tidak membawa ponselnya. Tenang saja, sebentar lagi kita akan sampai di rumah,” Auahku berusaha menenangkan ibukku. Sesampaiku di depan rumah, Uun ada di halaman rumah bersama beberapa orang polisi dan dua buah mobil polisi. Ayahku segera turun dari mobilnya. Aku berusaha menerka hal apa yang mungkin terjadi saat aku pergi. ”Uun, apa yang terjadi?” Ayahku berseru panik pada adikku. Uun dan seorang opsir polisi segera menghampiriku.” Ibu, aku benar-benar minta maaf belum menghubungimu, aku pikir kau akan segera sampai, karena aku juga baru saja tiba dan menemukan isi rumah berantakan dan beberapa barang menghilang. Kemudian aku menelepon polisi untuk memastikan apakah rumah kita aman.” jelas adiiku sambil menunjuk mobilnya yang masih di luar garasi, menandakan aku baru saja tiba. ” Lalu di mana Fajar?” ayahku menggandeng tangan Aan dan menghampiri mereka, bertanya.” Selamat malam bapak Tardi dan ibu Budi. Saya Opsir Mahmud, maaf bila saya menyela. Sepertinya rumah Anda baru saja dirampok, kemungkinan setengah jam yang lalu. Untuk keberadaan putra Anda, kami belum dapat memastikanku. Maaf.” Opsir Mahmud menjelaskan dan menulis beberapa hal di notes kecil yang dibawanya.
Sebuah van putih dan kusam melintas keluar dari perbatasan Karanganyar menuju daerah Sragen di utara Karanganyar. Jalanan cukup ramai petang itu. Dua orang di dalam van itu terdengar sedang terlibat sebuah pertengakaran. Tiba-tiba Aku terbangun dari pingsanku mendengar bentakan seseorang dalam mobil yang dinaikinya, van putih itu. Mulutku ditutup sebuah slotip yang membekapku cukup erat. Tanganku terikat oleh tali di belakang punggungku. Aku belum mati, pikirku dalam hati. Satu kata yang melintas di dalam pikiranku adalah penculikan. Aku kembali menutup mataku dan berusaha menguping pembicaraan dua penculikku di dalam van itu.” Bagus sekali kau melibatkan kita dalam penculikan dan polisi sudah pasti akan lebih mudah mencari dan menemukan kita.” kata seorang penculik di kursi penumpang. Kawanku masih diam dan terlihat sangat kesal karena terus disalahkan.”Hey, aku sudah minta maaf, dan aku benar-benar panik saat anak itu masuk ke dalam rumah. Dan mengapa kau tidak mencegahku membawaku. Ini bukan hanya kesalahanku!” jerit penculik yang sedang menyetir itu ganti menyalahkan temannya. Aku masih berusaha mendapat informasi di mana aku berada sekarang sebelum para penculik itu menyadari bahwa aku telah sadar dari pingsanku. Aku melihat ke luar, ke arah jalan dan terlihat pepohonan di sebelah kananku. Aku menyadari bahwa aku masih berada dekat dengan Karanganyar. Setalah mengetahui di mana aku dibawa, Aku mencoba kembali menidurkan diriku karena Pundakku terasa sangat berat. Tak lama kemudian aku kembali tertidur. Malam itu keluargaku sedang berada di kantor polisi untuk meminta bantuan memastikan Aku baik-baik saja. Dua orang saksi, tetangga ayahku mengatakan mereka melihat van putih asing keluar dari jalan depan rumah keluargaku dengan tergesa-gesa menuju ke jalan raya. Para polisis segera memastikan keberadaan van itu. Kepolisian segera melakukan kontak dengan beberapa kantor polisi di luar wilayahkaranganyar. Sebuah laporan dari pos polisi Karanganyar bagian utara mengatakan bahwa van itu melintasi perbatasan pusat kota Karanganyar menuju daerah sebelah utara Karanganyar. Seorang pimpinan polisi sektor Karanganyar segera memerintahkan untuk mengejar van tersebut. Di tengah jalan, van putih itu berhenti di pom bensin untuk mengisi bensin. Dua orang penculikku turun dari mobilku dan berjalan ke arah swalayan di dekat pom bensin tersebut. Setelah merasa para penculik itu sudah cukup jauh dari mobil, Aku berusaha melihat keluar dan memikirkan cara untuk kabur. Aku tersenyum lebar, aku menadari bahwa kakiku tidak diikat. ” Bodoh sekali kalian...” makiku pada para penculik. Aku kemudian menaikkan kakiku, melipatnya seperti sedang bersimpuh dan kini telapak kakiku ada di belakang punggungku. Dengan jantung yang berdebar kencang, aku berusaha menarik-narik tali ikatan tanganku dengan jari-jari kakiku agar segera longgar dan lepas. Aku berdoa agar orang-orang itu tidak kembali ke van mereka. ”Cepat, ayo segera lepas, ayolah, keluargamu khawatir padamu, selamatkan dirimu sendiri....” Aku menyemangati diriku untuk berusaha melepaskan tali ikatanku. Penculik terlihat sedang keluar dari pintu swalayan. Dengan jantung yang berdebar sudah sangat cepat, Aku masih berharap aku diberi kesempatan untuk kabur. Akhirnya, tali yang mengikat tanganku melonggar sehingga aku bisa mengeluarkan tanganku dari ikatan. Segera aku membuka pintu van itu dan berlari keluar. Aku melepaskan slotip yang membekap mulutku.
Aku ingin menangis menyadari masih diberi kesempatan untuk bertemu keluargaku. Namun, kesempatan itu tidak semudah yang aku bayangkan. Penculik-penculik itu sudah memasuki van dan mengejarku. Aku berteriak meminta tolong. Namun, di sekitarku tidak ada seorang pun yang terlihat. Malam itu sungguh mencekam bagiku. Aku melintasi jalan raya yang gelap tanpa lampu, sudah cukup jauh dari jalan raya yang tadi aku lewati, berada di dekat hutan. Kini, di sekitarku hanya terlihat pohon pinus-pinus tinggi di pinggir jalan. Akhirnya Aku memutuskan masuk ke hutan itu dan bersembunyi. Aku sudah sangat kelelahan berlari. Dua orang penculik turun dari mobil dan mengikutiku masuk ke hutan. Aku segera bersembunyi di antara pohon-pohon tinggi menjulang dan berbatang dingin itu. Saat itu ada kekuatan yang mendorong diriku untuk tetap bertahan. Aku segera berdiri dan masuk makin ke tengah hutan. Aku memastikan sudah masuk cukup jauh ke dalam dan penculik itu tidak akan menemukanku lagi. Aku bertahan malam itu di dalam hutan yang dingin. Aku ketakutan dan tidak bisa tidur. Sambil menunggu pagi, aku tidak tidur, tetapi hanya berdoa dan sesekali bersenandung memecah kesukukun dan kegelapan di sekitarku. Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, Aku mendengar suara air mengalir dan berusaha mencari air untuk diminum. Aku terlonjak menemukan sebuah sungai kecil dengan air dingin yang mengalir. Aku berjongkok dan mengambil air tersebut dengan tanganku. ” Aku tidak tahu di mana aku sekarang.” Aku mengeluarkan ponsel dari saku celanaku dan berusaha menghidupkannya. Bateraiku habis. Aku terduduk. Tiba-tiba aku mendengar suara-suara beberapa meter di dekatku. Langit mulai berwarna kemerahan. Matahari telah tiba. Aku kembali berusaha mendengarkan suara-suara itu, yang terdengar lebih seperti suara sekumpulan orang daripada suara alam. Segera aku bangkit dan menuju arah suara itu untuk meminta bantuan. Aku memasuki hutan dan meyakinkan diriku bahwa memang ada orang di sana. Hening, tiba-tiba. Aku menjadi bingung, namun aku terus berjalan menurut instingku. Sebuah tangan menyentuh pundakku dengan tiba-tiba. Dengan segera aku membalikkan badan untuk melihat siapa orang itu. Aku terkejut melihat seorang laki-laki berkulit kuning dan bermata sipit itu berada di tengah hutan. Karena sudah kelelahan aku berusaha menjelaskan bahwa aku mencari bantuan untuk membawaku pulang ke Karanganyar. Meski sempat terkendala bahasa, dan akhirnya beberapa kali menggunakan bahasa tubuh, orang Sragen berusia sekitar 20 tahun bernama Tukijo itu bersedaku mengantarkanku ke Karanganyar. Tukijo merasa iba pada Aku yang terlihat pucat dan kelelahan. Tukijo memanggil teman-temannya dan mengajak orang-orang Sragen lainnya itu mengantarkan Aku ke Karanganyar. Dalam perjalanan Aku bercerita pada seorang, teman Tukijo bernama Migjo. Aku cukup fasih berbahasa Jawa. Setelah itu Migjo menceritakan pada teman-temannya dengan bahasa Indonesia. Aku terharu saat memasuki Karanganyar. Aku teringat pada orangtuaku, dan dua saudaraku,Uun dan Aan. Aku menunjukkan di mana arah rumahku kepada teman-teman Sragen-ku. Setelah sampai, Aku segera berlari memasuki pekarangan rumahku dan menyerbu masuk ke dalam rumahku. Ayahku, yang malam itu tidak bisa tidur dan hanya duduk di kursi ruang tamu terkejut melihat Aku berada di hadapannya. Ayahku bangkit dan menghambur, memelukku dan menangis. Ayahku Uun dan Aan menghampiri Aku dan memelukku. Kemudian, Aku mengajak teman-teman yang telah mengantarku pulang tadi masuk dan berkenalan dengan keluargaku. Aku kemudian duduk di kursi ruang tamu dan tanpa sadar tertidur. Di tengah mimpiku, aku melihat diriku sendiri. ” Baik, aku memang tidak bisa menerka apapun yang akan terjadi di hidupku sedetik lagi....” . Dismping aku tertidur pulas. Teman-temanku yang berasal dari Sragen tadi mencritakan kembali kejadian sebelumnya. “ Saya menemukan anak bapak di hutan dekat Sragen sana yang berteriak menta tolong” kata Migjo kepada ayahku. Ayahkupun mengucapkan terima kasih yang banyak kepada teman-temanku tadi. Lalu, teman-temanku pamit untuk kembali melanjutkan perjalanannya ke Tawangmangu. Akupun terbangun dari tidurku dan bertanya kepada ayahku dimana teman-temanku tadi pak. Mereka sudah pergi Jar. Ayahku bertanya kepadaku ,” Kamu kemana saja”. Aku diculik oleh penculik pak. Ibuku langsung datang menghampiriku, nak kamu kembali ke kamar dan ridur lah lagi pasti kamu lelah. “Tidak, Bu” jawabku dengan suara agak pelan. Ya sudah ibu buatkan kamu segelas susu dan Nasi goring untukmu, kamu mau tidak. Mau…., Tunggu sebentar, ya nak. Selagi aku menunggu nasi goring dan susu yang baru dibuat ibuku, aku bercerita kepada ayahku. “ yah, kemarin sian ayah sama adik pergi kemana saja, aku cari kemana-mana tidak ada, sampai-sampai au diculik.” Kataku kepada ayah. Ayah pergi ke Rumah teman ayah bersama adikmu. Kok, Ayah tidak bilang kalau mau pergi kerumah temen ayah. “ Maaf ya nak, Ayah sudah menghubungi kamu tettapi kamu tidak menjawab teleponku.” Jawab ayahku. Selesai bercerita bersama ayah akhirnya nasi goring serta susu kesukaanku sudah disiapkan di meja makan. Aku dan ayah segera menuju kesana, aku dan adik-adiku makan bersama-sama serta ayah-ibuku.” Nasi gorengnya enak sekali ,Buk.” Tanyaku kepada ibukku. Lain kali ibu buatkan lagi mau tiadak. Mau buk. Selesai makan akupun menuju kamar tidurku. Sebelum tidur aku harus membereskan kamarku terlebih dahulu. Selanjutnya akupun tertidur nyenyak ditempat tidur kesayangannku. Di pagi harinya aku terlihat lebih sehat dan kuat daripada yang kemarin.
“ Nah inilah akhir dari cerita pendekku. Semoga bias menjadikan contoh ang baik. Seperti halnya, kalau berpergian itu semua pintu rumah harus dikunci, agar tidak terjadi kerampokan.”
Terima Kasih
Angin malam berhembus kencang, menggoyang batang-batang pepohonan tinggi yang berjajar di sepanjang kompleks Karanganyar. Daun-daun yang sudah berganti warna berjatuhan ke tanah yang basah dan dingin. Hari masih gelap, separuh bulan penuh muncul redup di langit, tertutup awan-awan tipis berarak dan kabut. Bintang-bintang haku berkerlap-kerlip tidak jelas, kadang muncul kemudian menghilang ditelan gelap malam. Sunyi, haku suara serangga-serangga yang keluar di malam hari dan bebrapa kelelawar di antara pepohonan Suasana Karanganyar malam ini jauh berbeda dengan suasana Kota Surakarta pada malam hari. Cahaya lampu di kota dan keramaian sepanjang malam seolah menggantikan bintang-bintang yang hadir di atas langit Kota Surakarta yang cerah malam itu. Karangakur memang terletak di timur Kota Surakarta.
Tidak seperti malam-malam biasanya, malam ini suasana Karanganyar benar-benar sepi. Malam-malam sebelumku, suasana Karanganyar tidak jauh berbeda dengan Kota Surakarta. Malam ini, haku sesekali terdengar suara mobil dan truck melaju dengan cepat di tengah dinginku malam musim penghujan di jalanan Karanganyar. Aku , malam itu terbangun pada pukul tiga malam di tengah-tengah waktu tidurku. Aku segera menyingkirkan selimut dari kakiku, mengambil segelas air putih di meja sebelah tempat tidurku, dan meneguknya dengan cepat. Segera setelah aku menaruh gelasku, aku berjalan menuju meja komputerku dan menyalakannya. Aku memutuskan untuk mebuka facebook dan akun e-mailku untuk mengecek e-mail dan pemberitahuan yang masuk. ”Dingin sekali...” gumamku. Sebantar lagi musim kemarau akan tiba, akhir musim penghujan kali ini udara sangat dingin. Kemungkinan hujan akan turun lebih awal tahun ini. Mataku menelusuri layar komputerku dan melihat-lihat kotak masukku. Hanya ada tiga e-mail baru yang masuk. Satu dari sahabatku, Indriyani, dan kedua dari Ariyanto, dan yang terakhir adalah dari temanku yang berada di Semarang. Aku membaca ketiganya dengan cepat. Beberapa kali angin dingin berhembus, seperti menembus tembok, masuk ke dalam kamarku di lantai dua rumah keluargaku. Aku menggigil dan berdiri, kemudian aku berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil jacket untuk menghangatkan diriku.
“Aneh, mengapa malam ini sepi sekali?” aku bergumam pada diriku sendiri. Tidak biasanya Karanganyar sepi pada malam hari. Setelah menemukan sebuah jaket, aku menggunakanya dan duduk kembali di meja komputerku. ”Pagi,Buk!” sapa Fajar pada ibuku dengan bersemangat. Aku agak pusing karena kurang tidur. Awan mendung menaungi langit Karanganyar pagi ini. Di luar rumahku, sudah banyak orang melakukan aktifitas pagi mereka. Sekedar jogging, bersepeda atau membersihkan halaman rumahnya. Suara sepatu mendekati pintu depan rumahku. Seorang pengantar koran seumuranku menaruh koran di depan pintu. Aku bergegas menuju pintu, koran itu segera kuambil dan dengan senyum aku mengucapkan terima kasih pada sang pengantar koran.Kubaca headline pagi ini. ”Presiden sedang Berada Di Denmark.” Aku segera masuk kembali ke dalam rumah dan menemukan ayahku tengah duduk di ruang makan, menyeruput tehnya. ”Hei, anakku, berikan itu padaku!” kata ayahku sambil menunjuk koran yang kubawa. ” Nih, Pak...” ucapku seraya menyerahkan koran yang kubawa pada Ayahku. Ibuku sedang memasak tempe dan tahu untuk sarapan di dapur, tepat di sebelah ruang makan.” Pagi Fajar, Pak...” sapa adikku, Uun, yang baru saja bangun. Disusul adikku yang paling kecil, Aan. Aan masih terlihat mengantuk, berkali-kali dia terlihat menguap hingga Ibuku menyuruhnya mencuci muka. ”Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini, Uun?” Kataku ”Baik, pergi dengan teman-temanku, mungkin. Kami akan ke rumah Adi sayang ini.” jawabku singkat. Aku menganggukan kepala mendengar jawaban Uun. Aku segera duduk saat ibuku menyajikan tempe dan tahu yang telah dibuatnya di meja makan. ” Aku pergi ke rumah Annis saja nanti,” pikirku menentukan rencana hari ini. Selesai sarapan, Aku bergegas menuju kamarku, berganti baju dan pergi keluar bersama Uun. Aku diantar dengan Sepeda menuju rumah Annis. Kemudian Uun pergi ke rumah temannya.
Malam itu, sekitar pukul enam sore, Aku diantar pulang oleh Annis ke rumahku. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Annis memacu mobilnya kembali ke rumahnya. Aku memasuki jalan setapak di pekarangan rumahku menuju pintu utama. Aku tiba-tiba merasakan firasat ada sesuatu yang tidak beres di dalam rumahku. Dengan segera aku berlari membuka pintu rumahku dan menyerbu masuk. Aku terkejut mendapati isi rumahku agak berantakan dan tidak dikunci tanpa ada seorangpun di rumah. Dengan panik aku berteriak memanggil-manggil keluargaku. ”Ibu, Ayah, Aan, Uun...” teriakku sambil memandang sekeliling rumahku yang luas setinggi dua lantai itu. Sunyi, tidak ada yang menjawab. ” Kemana mereka?” pikirku. Otakku telah dipenuhi pikiran-pikiran buruk. Bagaimana kalau Aan disekap? Apakah mereka terluka? Baru saja aku mau berlari menuju pintu untuk meminta bantuan, seseorang membekap mulutku dan menghantam bagian Pundakku dengan cukup keras. Pukulan terkeras yang pernah aku rasakan seumur hidupku. Aku merasakan pundakku sangat sakit dan berat, kemudian pandanganku mengabur perlahan. Sesaat sebelum pingsan aku sempat berpikir bahwa ini adalah akhir hidupku.
Di tempat lain, orang tuaku dan Aan, adikku, berusaha menelepon ke ponselku yang pada saat itu kumatikan. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah setelah sepanjang siang menghabiskan waktu di rumah salah satu teman Ayahku. ” Ayo, angkat ponselmu,Fajar Wahyu Ardianto!” ibuku mulai tidak tenang setelah berkali-kali mencoba menelepon, namun belum dijawab.” Mungkin Fajar tidak membawa ponselnya. Tenang saja, sebentar lagi kita akan sampai di rumah,” Auahku berusaha menenangkan ibukku. Sesampaiku di depan rumah, Uun ada di halaman rumah bersama beberapa orang polisi dan dua buah mobil polisi. Ayahku segera turun dari mobilnya. Aku berusaha menerka hal apa yang mungkin terjadi saat aku pergi. ”Uun, apa yang terjadi?” Ayahku berseru panik pada adikku. Uun dan seorang opsir polisi segera menghampiriku.” Ibu, aku benar-benar minta maaf belum menghubungimu, aku pikir kau akan segera sampai, karena aku juga baru saja tiba dan menemukan isi rumah berantakan dan beberapa barang menghilang. Kemudian aku menelepon polisi untuk memastikan apakah rumah kita aman.” jelas adiiku sambil menunjuk mobilnya yang masih di luar garasi, menandakan aku baru saja tiba. ” Lalu di mana Fajar?” ayahku menggandeng tangan Aan dan menghampiri mereka, bertanya.” Selamat malam bapak Tardi dan ibu Budi. Saya Opsir Mahmud, maaf bila saya menyela. Sepertinya rumah Anda baru saja dirampok, kemungkinan setengah jam yang lalu. Untuk keberadaan putra Anda, kami belum dapat memastikanku. Maaf.” Opsir Mahmud menjelaskan dan menulis beberapa hal di notes kecil yang dibawanya.
Sebuah van putih dan kusam melintas keluar dari perbatasan Karanganyar menuju daerah Sragen di utara Karanganyar. Jalanan cukup ramai petang itu. Dua orang di dalam van itu terdengar sedang terlibat sebuah pertengakaran. Tiba-tiba Aku terbangun dari pingsanku mendengar bentakan seseorang dalam mobil yang dinaikinya, van putih itu. Mulutku ditutup sebuah slotip yang membekapku cukup erat. Tanganku terikat oleh tali di belakang punggungku. Aku belum mati, pikirku dalam hati. Satu kata yang melintas di dalam pikiranku adalah penculikan. Aku kembali menutup mataku dan berusaha menguping pembicaraan dua penculikku di dalam van itu.” Bagus sekali kau melibatkan kita dalam penculikan dan polisi sudah pasti akan lebih mudah mencari dan menemukan kita.” kata seorang penculik di kursi penumpang. Kawanku masih diam dan terlihat sangat kesal karena terus disalahkan.”Hey, aku sudah minta maaf, dan aku benar-benar panik saat anak itu masuk ke dalam rumah. Dan mengapa kau tidak mencegahku membawaku. Ini bukan hanya kesalahanku!” jerit penculik yang sedang menyetir itu ganti menyalahkan temannya. Aku masih berusaha mendapat informasi di mana aku berada sekarang sebelum para penculik itu menyadari bahwa aku telah sadar dari pingsanku. Aku melihat ke luar, ke arah jalan dan terlihat pepohonan di sebelah kananku. Aku menyadari bahwa aku masih berada dekat dengan Karanganyar. Setalah mengetahui di mana aku dibawa, Aku mencoba kembali menidurkan diriku karena Pundakku terasa sangat berat. Tak lama kemudian aku kembali tertidur. Malam itu keluargaku sedang berada di kantor polisi untuk meminta bantuan memastikan Aku baik-baik saja. Dua orang saksi, tetangga ayahku mengatakan mereka melihat van putih asing keluar dari jalan depan rumah keluargaku dengan tergesa-gesa menuju ke jalan raya. Para polisis segera memastikan keberadaan van itu. Kepolisian segera melakukan kontak dengan beberapa kantor polisi di luar wilayahkaranganyar. Sebuah laporan dari pos polisi Karanganyar bagian utara mengatakan bahwa van itu melintasi perbatasan pusat kota Karanganyar menuju daerah sebelah utara Karanganyar. Seorang pimpinan polisi sektor Karanganyar segera memerintahkan untuk mengejar van tersebut. Di tengah jalan, van putih itu berhenti di pom bensin untuk mengisi bensin. Dua orang penculikku turun dari mobilku dan berjalan ke arah swalayan di dekat pom bensin tersebut. Setelah merasa para penculik itu sudah cukup jauh dari mobil, Aku berusaha melihat keluar dan memikirkan cara untuk kabur. Aku tersenyum lebar, aku menadari bahwa kakiku tidak diikat. ” Bodoh sekali kalian...” makiku pada para penculik. Aku kemudian menaikkan kakiku, melipatnya seperti sedang bersimpuh dan kini telapak kakiku ada di belakang punggungku. Dengan jantung yang berdebar kencang, aku berusaha menarik-narik tali ikatan tanganku dengan jari-jari kakiku agar segera longgar dan lepas. Aku berdoa agar orang-orang itu tidak kembali ke van mereka. ”Cepat, ayo segera lepas, ayolah, keluargamu khawatir padamu, selamatkan dirimu sendiri....” Aku menyemangati diriku untuk berusaha melepaskan tali ikatanku. Penculik terlihat sedang keluar dari pintu swalayan. Dengan jantung yang berdebar sudah sangat cepat, Aku masih berharap aku diberi kesempatan untuk kabur. Akhirnya, tali yang mengikat tanganku melonggar sehingga aku bisa mengeluarkan tanganku dari ikatan. Segera aku membuka pintu van itu dan berlari keluar. Aku melepaskan slotip yang membekap mulutku.
Aku ingin menangis menyadari masih diberi kesempatan untuk bertemu keluargaku. Namun, kesempatan itu tidak semudah yang aku bayangkan. Penculik-penculik itu sudah memasuki van dan mengejarku. Aku berteriak meminta tolong. Namun, di sekitarku tidak ada seorang pun yang terlihat. Malam itu sungguh mencekam bagiku. Aku melintasi jalan raya yang gelap tanpa lampu, sudah cukup jauh dari jalan raya yang tadi aku lewati, berada di dekat hutan. Kini, di sekitarku hanya terlihat pohon pinus-pinus tinggi di pinggir jalan. Akhirnya Aku memutuskan masuk ke hutan itu dan bersembunyi. Aku sudah sangat kelelahan berlari. Dua orang penculik turun dari mobil dan mengikutiku masuk ke hutan. Aku segera bersembunyi di antara pohon-pohon tinggi menjulang dan berbatang dingin itu. Saat itu ada kekuatan yang mendorong diriku untuk tetap bertahan. Aku segera berdiri dan masuk makin ke tengah hutan. Aku memastikan sudah masuk cukup jauh ke dalam dan penculik itu tidak akan menemukanku lagi. Aku bertahan malam itu di dalam hutan yang dingin. Aku ketakutan dan tidak bisa tidur. Sambil menunggu pagi, aku tidak tidur, tetapi hanya berdoa dan sesekali bersenandung memecah kesukukun dan kegelapan di sekitarku. Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, Aku mendengar suara air mengalir dan berusaha mencari air untuk diminum. Aku terlonjak menemukan sebuah sungai kecil dengan air dingin yang mengalir. Aku berjongkok dan mengambil air tersebut dengan tanganku. ” Aku tidak tahu di mana aku sekarang.” Aku mengeluarkan ponsel dari saku celanaku dan berusaha menghidupkannya. Bateraiku habis. Aku terduduk. Tiba-tiba aku mendengar suara-suara beberapa meter di dekatku. Langit mulai berwarna kemerahan. Matahari telah tiba. Aku kembali berusaha mendengarkan suara-suara itu, yang terdengar lebih seperti suara sekumpulan orang daripada suara alam. Segera aku bangkit dan menuju arah suara itu untuk meminta bantuan. Aku memasuki hutan dan meyakinkan diriku bahwa memang ada orang di sana. Hening, tiba-tiba. Aku menjadi bingung, namun aku terus berjalan menurut instingku. Sebuah tangan menyentuh pundakku dengan tiba-tiba. Dengan segera aku membalikkan badan untuk melihat siapa orang itu. Aku terkejut melihat seorang laki-laki berkulit kuning dan bermata sipit itu berada di tengah hutan. Karena sudah kelelahan aku berusaha menjelaskan bahwa aku mencari bantuan untuk membawaku pulang ke Karanganyar. Meski sempat terkendala bahasa, dan akhirnya beberapa kali menggunakan bahasa tubuh, orang Sragen berusia sekitar 20 tahun bernama Tukijo itu bersedaku mengantarkanku ke Karanganyar. Tukijo merasa iba pada Aku yang terlihat pucat dan kelelahan. Tukijo memanggil teman-temannya dan mengajak orang-orang Sragen lainnya itu mengantarkan Aku ke Karanganyar. Dalam perjalanan Aku bercerita pada seorang, teman Tukijo bernama Migjo. Aku cukup fasih berbahasa Jawa. Setelah itu Migjo menceritakan pada teman-temannya dengan bahasa Indonesia. Aku terharu saat memasuki Karanganyar. Aku teringat pada orangtuaku, dan dua saudaraku,Uun dan Aan. Aku menunjukkan di mana arah rumahku kepada teman-teman Sragen-ku. Setelah sampai, Aku segera berlari memasuki pekarangan rumahku dan menyerbu masuk ke dalam rumahku. Ayahku, yang malam itu tidak bisa tidur dan hanya duduk di kursi ruang tamu terkejut melihat Aku berada di hadapannya. Ayahku bangkit dan menghambur, memelukku dan menangis. Ayahku Uun dan Aan menghampiri Aku dan memelukku. Kemudian, Aku mengajak teman-teman yang telah mengantarku pulang tadi masuk dan berkenalan dengan keluargaku. Aku kemudian duduk di kursi ruang tamu dan tanpa sadar tertidur. Di tengah mimpiku, aku melihat diriku sendiri. ” Baik, aku memang tidak bisa menerka apapun yang akan terjadi di hidupku sedetik lagi....” . Dismping aku tertidur pulas. Teman-temanku yang berasal dari Sragen tadi mencritakan kembali kejadian sebelumnya. “ Saya menemukan anak bapak di hutan dekat Sragen sana yang berteriak menta tolong” kata Migjo kepada ayahku. Ayahkupun mengucapkan terima kasih yang banyak kepada teman-temanku tadi. Lalu, teman-temanku pamit untuk kembali melanjutkan perjalanannya ke Tawangmangu. Akupun terbangun dari tidurku dan bertanya kepada ayahku dimana teman-temanku tadi pak. Mereka sudah pergi Jar. Ayahku bertanya kepadaku ,” Kamu kemana saja”. Aku diculik oleh penculik pak. Ibuku langsung datang menghampiriku, nak kamu kembali ke kamar dan ridur lah lagi pasti kamu lelah. “Tidak, Bu” jawabku dengan suara agak pelan. Ya sudah ibu buatkan kamu segelas susu dan Nasi goring untukmu, kamu mau tidak. Mau…., Tunggu sebentar, ya nak. Selagi aku menunggu nasi goring dan susu yang baru dibuat ibuku, aku bercerita kepada ayahku. “ yah, kemarin sian ayah sama adik pergi kemana saja, aku cari kemana-mana tidak ada, sampai-sampai au diculik.” Kataku kepada ayah. Ayah pergi ke Rumah teman ayah bersama adikmu. Kok, Ayah tidak bilang kalau mau pergi kerumah temen ayah. “ Maaf ya nak, Ayah sudah menghubungi kamu tettapi kamu tidak menjawab teleponku.” Jawab ayahku. Selesai bercerita bersama ayah akhirnya nasi goring serta susu kesukaanku sudah disiapkan di meja makan. Aku dan ayah segera menuju kesana, aku dan adik-adiku makan bersama-sama serta ayah-ibuku.” Nasi gorengnya enak sekali ,Buk.” Tanyaku kepada ibukku. Lain kali ibu buatkan lagi mau tiadak. Mau buk. Selesai makan akupun menuju kamar tidurku. Sebelum tidur aku harus membereskan kamarku terlebih dahulu. Selanjutnya akupun tertidur nyenyak ditempat tidur kesayangannku. Di pagi harinya aku terlihat lebih sehat dan kuat daripada yang kemarin.
“ Nah inilah akhir dari cerita pendekku. Semoga bias menjadikan contoh ang baik. Seperti halnya, kalau berpergian itu semua pintu rumah harus dikunci, agar tidak terjadi kerampokan.”
Terima Kasih
Selasa, 26 Januari 2010
Demokrasi Pancasila
Demokrasi Kita (bangsa Indonesia), DEMOKRASI PANCASILA
10 05 2007
Demokrasi, sebuah kata sakti dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah kata yang setiap Negara/ bangsa selalu mengagungkannya. Saking saktinya kata tersebut sampai memiliki pengaruh yang luar biasa hebatnya. Meskipun sebagian masyarakat tidak paham apa sebenarnya yang didemokrasi, kekuasaan-kah, Keadilan-kah, Pendidikan-Kah atau Cuma pendapat/aspirasi saja. Kalau demokrasi diartikan sebagai kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, berarti itu hanya demokrasi dalam lingkup mengeluarkan pendapat. Lalu dimanakah letak Demokrasi Pendidikan? Demokrasi Keadilan? Demokrasi beragama? (ya binggung kalo sudah begini).
Ya karena itu tidak terlepas dari peran Amerika dan sekutunya yang mengklaim sebagai polisi dunia/Negara paling demokrasi, dengan menggunakan dalih ini dia (amerika,red) menutupi tujuan terselubungnya. Coba diingat perlakuan Amerika terhadap Afganistan, Iraq dan yang terakhir memojokkan Iran dengan isu Nuklirnya, Apakah itu demokrasi? (anda bisa lihat buktinya sendiri).Wong dia boleh memiliki Nuklir, Kenapa orang lain tidak boleh kalo itu baik & kalo itu jahat kenapa dia memilikinya??? Ya beginilah cirri-ciri Kapitalis dan Komunis dengan kedok apapun, tetntunya ini buka pemimpin tentunya ini bukan polisi dunia tapi penjajah dunia lebih tepatnya.
Lalu bagaimana dengan Indonesia, lah ini lagi lebih parah sudah tidak tau apa itu demokrasi ikut-ikutan demokratis, karena tidak paham malah jadinya kapitalis, buktinya : biaya pendidikan yang tinggi tetntu hanya bias dirasakan sebagian orang berduit, lalu bagaimana dengan petani, nelayan, buruh, ya tentu tidak mampu. Apa ini demokratis? (demokratis jangan hanya diartikan sebagai kebebasan mengeluarkan pendapat saja kita tertipu, tetapi demokratis itu juga kebebasan belajar, pendidikan, keadilan, ekonomi dll).
Lalu kita ini enaknya apa? Ngapain niru yang tidak jelas kita punya demokrasi sendiri yaitu DEMOKRASI PANCASILA. Ya ini sudah jelas dan cocok dengan kita. Sama halnya dengan setiap Negara/bangsa memiliki cirri masing-masing. Contonya makanan, yang cocok dengan lidah kita ya sambal bukan moyonesnya Amerika. Kembali kedemokrasi Pancasila kita, sudah sangat jelas dan cocok dengan kita, mari kita lihat satu persatu sila di Pancasila:
KETUHANAN YANG MAHA ESA, dimana letak demokrasinya ?
• Apakah disini disebutkan hanya mengkhusukan kepad salah satu agama saja? Tentu tidak-kan, tentunya Yang Maha Esa menurut keyakina masing-masing. Disini tidak ada unsure pemaksaan bahwa agama A atau B yang paling beanar/salah. Apakah ini bukan Demokrasi??
KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAP, diamana demokrasiny?
• Sila ini sudah jelas, kemanusiaan Adil dan Beradap, bahwa keadilan ini milik siapa saja, keadilan pendidikan, keadilan hokum, keadilan ekonomi. Bukan milik orang kaya thok, pejabat thok, koruptor thok, tukang sayur thok tapi milik semua. Apakh sila ini diksusukan utnuk satu golongan saja? Apakah ini bukan demokrasi namanya????
PERSATUAN INDONESIA
• n Sudah jelas bahwa Indonesia itu kekuatan utamanya da di persatuan. Persatuan itu tidak ada yang lebih baik atau buruk, lebih tinggi atau lebih rendah, suku A lebih baik dari Suku B atau sebalikanya, semua memiliki kedudukan sma sebagai komponen bangsa. Apakh ini tidak Demokrasi???
KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN.
• Ini sudah Jelas! Apakah ini bukan Demokrasi???
KEADILAN SOSILA BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA.
• Ini jelas sekali, keadilan social harus merata, apa ini bukan demokrasi?????
10 05 2007
Demokrasi, sebuah kata sakti dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah kata yang setiap Negara/ bangsa selalu mengagungkannya. Saking saktinya kata tersebut sampai memiliki pengaruh yang luar biasa hebatnya. Meskipun sebagian masyarakat tidak paham apa sebenarnya yang didemokrasi, kekuasaan-kah, Keadilan-kah, Pendidikan-Kah atau Cuma pendapat/aspirasi saja. Kalau demokrasi diartikan sebagai kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, berarti itu hanya demokrasi dalam lingkup mengeluarkan pendapat. Lalu dimanakah letak Demokrasi Pendidikan? Demokrasi Keadilan? Demokrasi beragama? (ya binggung kalo sudah begini).
Ya karena itu tidak terlepas dari peran Amerika dan sekutunya yang mengklaim sebagai polisi dunia/Negara paling demokrasi, dengan menggunakan dalih ini dia (amerika,red) menutupi tujuan terselubungnya. Coba diingat perlakuan Amerika terhadap Afganistan, Iraq dan yang terakhir memojokkan Iran dengan isu Nuklirnya, Apakah itu demokrasi? (anda bisa lihat buktinya sendiri).Wong dia boleh memiliki Nuklir, Kenapa orang lain tidak boleh kalo itu baik & kalo itu jahat kenapa dia memilikinya??? Ya beginilah cirri-ciri Kapitalis dan Komunis dengan kedok apapun, tetntunya ini buka pemimpin tentunya ini bukan polisi dunia tapi penjajah dunia lebih tepatnya.
Lalu bagaimana dengan Indonesia, lah ini lagi lebih parah sudah tidak tau apa itu demokrasi ikut-ikutan demokratis, karena tidak paham malah jadinya kapitalis, buktinya : biaya pendidikan yang tinggi tetntu hanya bias dirasakan sebagian orang berduit, lalu bagaimana dengan petani, nelayan, buruh, ya tentu tidak mampu. Apa ini demokratis? (demokratis jangan hanya diartikan sebagai kebebasan mengeluarkan pendapat saja kita tertipu, tetapi demokratis itu juga kebebasan belajar, pendidikan, keadilan, ekonomi dll).
Lalu kita ini enaknya apa? Ngapain niru yang tidak jelas kita punya demokrasi sendiri yaitu DEMOKRASI PANCASILA. Ya ini sudah jelas dan cocok dengan kita. Sama halnya dengan setiap Negara/bangsa memiliki cirri masing-masing. Contonya makanan, yang cocok dengan lidah kita ya sambal bukan moyonesnya Amerika. Kembali kedemokrasi Pancasila kita, sudah sangat jelas dan cocok dengan kita, mari kita lihat satu persatu sila di Pancasila:
KETUHANAN YANG MAHA ESA, dimana letak demokrasinya ?
• Apakah disini disebutkan hanya mengkhusukan kepad salah satu agama saja? Tentu tidak-kan, tentunya Yang Maha Esa menurut keyakina masing-masing. Disini tidak ada unsure pemaksaan bahwa agama A atau B yang paling beanar/salah. Apakah ini bukan Demokrasi??
KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAP, diamana demokrasiny?
• Sila ini sudah jelas, kemanusiaan Adil dan Beradap, bahwa keadilan ini milik siapa saja, keadilan pendidikan, keadilan hokum, keadilan ekonomi. Bukan milik orang kaya thok, pejabat thok, koruptor thok, tukang sayur thok tapi milik semua. Apakh sila ini diksusukan utnuk satu golongan saja? Apakah ini bukan demokrasi namanya????
PERSATUAN INDONESIA
• n Sudah jelas bahwa Indonesia itu kekuatan utamanya da di persatuan. Persatuan itu tidak ada yang lebih baik atau buruk, lebih tinggi atau lebih rendah, suku A lebih baik dari Suku B atau sebalikanya, semua memiliki kedudukan sma sebagai komponen bangsa. Apakh ini tidak Demokrasi???
KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN.
• Ini sudah Jelas! Apakah ini bukan Demokrasi???
KEADILAN SOSILA BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA.
• Ini jelas sekali, keadilan social harus merata, apa ini bukan demokrasi?????
Kasihan
Nama saya fajar, aq sekarang duduk di bangku smp, yaitu SMP N 1 Karanganyar. Di sana saya mempunyai banyak teman. Guru- guru di sana juga baik-baik dan pintar. Aq senang sekali.
Saya belum punya pacar, tetapi q sangat snang sekali dgan teman saya yang namanya Tyas, Kahfi, Anisa, dan Sabdo. Karena dia itu amat baik sekli sama saya.
Saya belum punya pacar, tetapi q sangat snang sekali dgan teman saya yang namanya Tyas, Kahfi, Anisa, dan Sabdo. Karena dia itu amat baik sekli sama saya.
Langganan:
Postingan (Atom)
