Senin, 01 Februari 2010

HARI YANG MENYEDIHKAN SEMASA AKU HIDUP

Angin malam berhembus kencang, menggoyang batang-batang pepohonan tinggi yang berjajar di sepanjang kompleks Karanganyar. Daun-daun yang sudah berganti warna berjatuhan ke tanah yang basah dan dingin. Hari masih gelap, separuh bulan penuh muncul redup di langit, tertutup awan-awan tipis berarak dan kabut. Bintang-bintang haku berkerlap-kerlip tidak jelas, kadang muncul kemudian menghilang ditelan gelap malam. Sunyi, haku suara serangga-serangga yang keluar di malam hari dan bebrapa kelelawar di antara pepohonan Suasana Karanganyar malam ini jauh berbeda dengan suasana Kota Surakarta pada malam hari. Cahaya lampu di kota dan keramaian sepanjang malam seolah menggantikan bintang-bintang yang hadir di atas langit Kota Surakarta yang cerah malam itu. Karangakur memang terletak di timur Kota Surakarta.
Tidak seperti malam-malam biasanya, malam ini suasana Karanganyar benar-benar sepi. Malam-malam sebelumku, suasana Karanganyar tidak jauh berbeda dengan Kota Surakarta. Malam ini, haku sesekali terdengar suara mobil dan truck melaju dengan cepat di tengah dinginku malam musim penghujan di jalanan Karanganyar. Aku , malam itu terbangun pada pukul tiga malam di tengah-tengah waktu tidurku. Aku segera menyingkirkan selimut dari kakiku, mengambil segelas air putih di meja sebelah tempat tidurku, dan meneguknya dengan cepat. Segera setelah aku menaruh gelasku, aku berjalan menuju meja komputerku dan menyalakannya. Aku memutuskan untuk mebuka facebook dan akun e-mailku untuk mengecek e-mail dan pemberitahuan yang masuk. ”Dingin sekali...” gumamku. Sebantar lagi musim kemarau akan tiba, akhir musim penghujan kali ini udara sangat dingin. Kemungkinan hujan akan turun lebih awal tahun ini. Mataku menelusuri layar komputerku dan melihat-lihat kotak masukku. Hanya ada tiga e-mail baru yang masuk. Satu dari sahabatku, Indriyani, dan kedua dari Ariyanto, dan yang terakhir adalah dari temanku yang berada di Semarang. Aku membaca ketiganya dengan cepat. Beberapa kali angin dingin berhembus, seperti menembus tembok, masuk ke dalam kamarku di lantai dua rumah keluargaku. Aku menggigil dan berdiri, kemudian aku berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil jacket untuk menghangatkan diriku.
“Aneh, mengapa malam ini sepi sekali?” aku bergumam pada diriku sendiri. Tidak biasanya Karanganyar sepi pada malam hari. Setelah menemukan sebuah jaket, aku menggunakanya dan duduk kembali di meja komputerku. ”Pagi,Buk!” sapa Fajar pada ibuku dengan bersemangat. Aku agak pusing karena kurang tidur. Awan mendung menaungi langit Karanganyar pagi ini. Di luar rumahku, sudah banyak orang melakukan aktifitas pagi mereka. Sekedar jogging, bersepeda atau membersihkan halaman rumahnya. Suara sepatu mendekati pintu depan rumahku. Seorang pengantar koran seumuranku menaruh koran di depan pintu. Aku bergegas menuju pintu, koran itu segera kuambil dan dengan senyum aku mengucapkan terima kasih pada sang pengantar koran.Kubaca headline pagi ini. ”Presiden sedang Berada Di Denmark.” Aku segera masuk kembali ke dalam rumah dan menemukan ayahku tengah duduk di ruang makan, menyeruput tehnya. ”Hei, anakku, berikan itu padaku!” kata ayahku sambil menunjuk koran yang kubawa. ” Nih, Pak...” ucapku seraya menyerahkan koran yang kubawa pada Ayahku. Ibuku sedang memasak tempe dan tahu untuk sarapan di dapur, tepat di sebelah ruang makan.” Pagi Fajar, Pak...” sapa adikku, Uun, yang baru saja bangun. Disusul adikku yang paling kecil, Aan. Aan masih terlihat mengantuk, berkali-kali dia terlihat menguap hingga Ibuku menyuruhnya mencuci muka. ”Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini, Uun?” Kataku ”Baik, pergi dengan teman-temanku, mungkin. Kami akan ke rumah Adi sayang ini.” jawabku singkat. Aku menganggukan kepala mendengar jawaban Uun. Aku segera duduk saat ibuku menyajikan tempe dan tahu yang telah dibuatnya di meja makan. ” Aku pergi ke rumah Annis saja nanti,” pikirku menentukan rencana hari ini. Selesai sarapan, Aku bergegas menuju kamarku, berganti baju dan pergi keluar bersama Uun. Aku diantar dengan Sepeda menuju rumah Annis. Kemudian Uun pergi ke rumah temannya.
Malam itu, sekitar pukul enam sore, Aku diantar pulang oleh Annis ke rumahku. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Annis memacu mobilnya kembali ke rumahnya. Aku memasuki jalan setapak di pekarangan rumahku menuju pintu utama. Aku tiba-tiba merasakan firasat ada sesuatu yang tidak beres di dalam rumahku. Dengan segera aku berlari membuka pintu rumahku dan menyerbu masuk. Aku terkejut mendapati isi rumahku agak berantakan dan tidak dikunci tanpa ada seorangpun di rumah. Dengan panik aku berteriak memanggil-manggil keluargaku. ”Ibu, Ayah, Aan, Uun...” teriakku sambil memandang sekeliling rumahku yang luas setinggi dua lantai itu. Sunyi, tidak ada yang menjawab. ” Kemana mereka?” pikirku. Otakku telah dipenuhi pikiran-pikiran buruk. Bagaimana kalau Aan disekap? Apakah mereka terluka? Baru saja aku mau berlari menuju pintu untuk meminta bantuan, seseorang membekap mulutku dan menghantam bagian Pundakku dengan cukup keras. Pukulan terkeras yang pernah aku rasakan seumur hidupku. Aku merasakan pundakku sangat sakit dan berat, kemudian pandanganku mengabur perlahan. Sesaat sebelum pingsan aku sempat berpikir bahwa ini adalah akhir hidupku.
Di tempat lain, orang tuaku dan Aan, adikku, berusaha menelepon ke ponselku yang pada saat itu kumatikan. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah setelah sepanjang siang menghabiskan waktu di rumah salah satu teman Ayahku. ” Ayo, angkat ponselmu,Fajar Wahyu Ardianto!” ibuku mulai tidak tenang setelah berkali-kali mencoba menelepon, namun belum dijawab.” Mungkin Fajar tidak membawa ponselnya. Tenang saja, sebentar lagi kita akan sampai di rumah,” Auahku berusaha menenangkan ibukku. Sesampaiku di depan rumah, Uun ada di halaman rumah bersama beberapa orang polisi dan dua buah mobil polisi. Ayahku segera turun dari mobilnya. Aku berusaha menerka hal apa yang mungkin terjadi saat aku pergi. ”Uun, apa yang terjadi?” Ayahku berseru panik pada adikku. Uun dan seorang opsir polisi segera menghampiriku.” Ibu, aku benar-benar minta maaf belum menghubungimu, aku pikir kau akan segera sampai, karena aku juga baru saja tiba dan menemukan isi rumah berantakan dan beberapa barang menghilang. Kemudian aku menelepon polisi untuk memastikan apakah rumah kita aman.” jelas adiiku sambil menunjuk mobilnya yang masih di luar garasi, menandakan aku baru saja tiba. ” Lalu di mana Fajar?” ayahku menggandeng tangan Aan dan menghampiri mereka, bertanya.” Selamat malam bapak Tardi dan ibu Budi. Saya Opsir Mahmud, maaf bila saya menyela. Sepertinya rumah Anda baru saja dirampok, kemungkinan setengah jam yang lalu. Untuk keberadaan putra Anda, kami belum dapat memastikanku. Maaf.” Opsir Mahmud menjelaskan dan menulis beberapa hal di notes kecil yang dibawanya.
Sebuah van putih dan kusam melintas keluar dari perbatasan Karanganyar menuju daerah Sragen di utara Karanganyar. Jalanan cukup ramai petang itu. Dua orang di dalam van itu terdengar sedang terlibat sebuah pertengakaran. Tiba-tiba Aku terbangun dari pingsanku mendengar bentakan seseorang dalam mobil yang dinaikinya, van putih itu. Mulutku ditutup sebuah slotip yang membekapku cukup erat. Tanganku terikat oleh tali di belakang punggungku. Aku belum mati, pikirku dalam hati. Satu kata yang melintas di dalam pikiranku adalah penculikan. Aku kembali menutup mataku dan berusaha menguping pembicaraan dua penculikku di dalam van itu.” Bagus sekali kau melibatkan kita dalam penculikan dan polisi sudah pasti akan lebih mudah mencari dan menemukan kita.” kata seorang penculik di kursi penumpang. Kawanku masih diam dan terlihat sangat kesal karena terus disalahkan.”Hey, aku sudah minta maaf, dan aku benar-benar panik saat anak itu masuk ke dalam rumah. Dan mengapa kau tidak mencegahku membawaku. Ini bukan hanya kesalahanku!” jerit penculik yang sedang menyetir itu ganti menyalahkan temannya. Aku masih berusaha mendapat informasi di mana aku berada sekarang sebelum para penculik itu menyadari bahwa aku telah sadar dari pingsanku. Aku melihat ke luar, ke arah jalan dan terlihat pepohonan di sebelah kananku. Aku menyadari bahwa aku masih berada dekat dengan Karanganyar. Setalah mengetahui di mana aku dibawa, Aku mencoba kembali menidurkan diriku karena Pundakku terasa sangat berat. Tak lama kemudian aku kembali tertidur. Malam itu keluargaku sedang berada di kantor polisi untuk meminta bantuan memastikan Aku baik-baik saja. Dua orang saksi, tetangga ayahku mengatakan mereka melihat van putih asing keluar dari jalan depan rumah keluargaku dengan tergesa-gesa menuju ke jalan raya. Para polisis segera memastikan keberadaan van itu. Kepolisian segera melakukan kontak dengan beberapa kantor polisi di luar wilayahkaranganyar. Sebuah laporan dari pos polisi Karanganyar bagian utara mengatakan bahwa van itu melintasi perbatasan pusat kota Karanganyar menuju daerah sebelah utara Karanganyar. Seorang pimpinan polisi sektor Karanganyar segera memerintahkan untuk mengejar van tersebut. Di tengah jalan, van putih itu berhenti di pom bensin untuk mengisi bensin. Dua orang penculikku turun dari mobilku dan berjalan ke arah swalayan di dekat pom bensin tersebut. Setelah merasa para penculik itu sudah cukup jauh dari mobil, Aku berusaha melihat keluar dan memikirkan cara untuk kabur. Aku tersenyum lebar, aku menadari bahwa kakiku tidak diikat. ” Bodoh sekali kalian...” makiku pada para penculik. Aku kemudian menaikkan kakiku, melipatnya seperti sedang bersimpuh dan kini telapak kakiku ada di belakang punggungku. Dengan jantung yang berdebar kencang, aku berusaha menarik-narik tali ikatan tanganku dengan jari-jari kakiku agar segera longgar dan lepas. Aku berdoa agar orang-orang itu tidak kembali ke van mereka. ”Cepat, ayo segera lepas, ayolah, keluargamu khawatir padamu, selamatkan dirimu sendiri....” Aku menyemangati diriku untuk berusaha melepaskan tali ikatanku. Penculik terlihat sedang keluar dari pintu swalayan. Dengan jantung yang berdebar sudah sangat cepat, Aku masih berharap aku diberi kesempatan untuk kabur. Akhirnya, tali yang mengikat tanganku melonggar sehingga aku bisa mengeluarkan tanganku dari ikatan. Segera aku membuka pintu van itu dan berlari keluar. Aku melepaskan slotip yang membekap mulutku.
Aku ingin menangis menyadari masih diberi kesempatan untuk bertemu keluargaku. Namun, kesempatan itu tidak semudah yang aku bayangkan. Penculik-penculik itu sudah memasuki van dan mengejarku. Aku berteriak meminta tolong. Namun, di sekitarku tidak ada seorang pun yang terlihat. Malam itu sungguh mencekam bagiku. Aku melintasi jalan raya yang gelap tanpa lampu, sudah cukup jauh dari jalan raya yang tadi aku lewati, berada di dekat hutan. Kini, di sekitarku hanya terlihat pohon pinus-pinus tinggi di pinggir jalan. Akhirnya Aku memutuskan masuk ke hutan itu dan bersembunyi. Aku sudah sangat kelelahan berlari. Dua orang penculik turun dari mobil dan mengikutiku masuk ke hutan. Aku segera bersembunyi di antara pohon-pohon tinggi menjulang dan berbatang dingin itu. Saat itu ada kekuatan yang mendorong diriku untuk tetap bertahan. Aku segera berdiri dan masuk makin ke tengah hutan. Aku memastikan sudah masuk cukup jauh ke dalam dan penculik itu tidak akan menemukanku lagi. Aku bertahan malam itu di dalam hutan yang dingin. Aku ketakutan dan tidak bisa tidur. Sambil menunggu pagi, aku tidak tidur, tetapi hanya berdoa dan sesekali bersenandung memecah kesukukun dan kegelapan di sekitarku. Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, Aku mendengar suara air mengalir dan berusaha mencari air untuk diminum. Aku terlonjak menemukan sebuah sungai kecil dengan air dingin yang mengalir. Aku berjongkok dan mengambil air tersebut dengan tanganku. ” Aku tidak tahu di mana aku sekarang.” Aku mengeluarkan ponsel dari saku celanaku dan berusaha menghidupkannya. Bateraiku habis. Aku terduduk. Tiba-tiba aku mendengar suara-suara beberapa meter di dekatku. Langit mulai berwarna kemerahan. Matahari telah tiba. Aku kembali berusaha mendengarkan suara-suara itu, yang terdengar lebih seperti suara sekumpulan orang daripada suara alam. Segera aku bangkit dan menuju arah suara itu untuk meminta bantuan. Aku memasuki hutan dan meyakinkan diriku bahwa memang ada orang di sana. Hening, tiba-tiba. Aku menjadi bingung, namun aku terus berjalan menurut instingku. Sebuah tangan menyentuh pundakku dengan tiba-tiba. Dengan segera aku membalikkan badan untuk melihat siapa orang itu. Aku terkejut melihat seorang laki-laki berkulit kuning dan bermata sipit itu berada di tengah hutan. Karena sudah kelelahan aku berusaha menjelaskan bahwa aku mencari bantuan untuk membawaku pulang ke Karanganyar. Meski sempat terkendala bahasa, dan akhirnya beberapa kali menggunakan bahasa tubuh, orang Sragen berusia sekitar 20 tahun bernama Tukijo itu bersedaku mengantarkanku ke Karanganyar. Tukijo merasa iba pada Aku yang terlihat pucat dan kelelahan. Tukijo memanggil teman-temannya dan mengajak orang-orang Sragen lainnya itu mengantarkan Aku ke Karanganyar. Dalam perjalanan Aku bercerita pada seorang, teman Tukijo bernama Migjo. Aku cukup fasih berbahasa Jawa. Setelah itu Migjo menceritakan pada teman-temannya dengan bahasa Indonesia. Aku terharu saat memasuki Karanganyar. Aku teringat pada orangtuaku, dan dua saudaraku,Uun dan Aan. Aku menunjukkan di mana arah rumahku kepada teman-teman Sragen-ku. Setelah sampai, Aku segera berlari memasuki pekarangan rumahku dan menyerbu masuk ke dalam rumahku. Ayahku, yang malam itu tidak bisa tidur dan hanya duduk di kursi ruang tamu terkejut melihat Aku berada di hadapannya. Ayahku bangkit dan menghambur, memelukku dan menangis. Ayahku Uun dan Aan menghampiri Aku dan memelukku. Kemudian, Aku mengajak teman-teman yang telah mengantarku pulang tadi masuk dan berkenalan dengan keluargaku. Aku kemudian duduk di kursi ruang tamu dan tanpa sadar tertidur. Di tengah mimpiku, aku melihat diriku sendiri. ” Baik, aku memang tidak bisa menerka apapun yang akan terjadi di hidupku sedetik lagi....” . Dismping aku tertidur pulas. Teman-temanku yang berasal dari Sragen tadi mencritakan kembali kejadian sebelumnya. “ Saya menemukan anak bapak di hutan dekat Sragen sana yang berteriak menta tolong” kata Migjo kepada ayahku. Ayahkupun mengucapkan terima kasih yang banyak kepada teman-temanku tadi. Lalu, teman-temanku pamit untuk kembali melanjutkan perjalanannya ke Tawangmangu. Akupun terbangun dari tidurku dan bertanya kepada ayahku dimana teman-temanku tadi pak. Mereka sudah pergi Jar. Ayahku bertanya kepadaku ,” Kamu kemana saja”. Aku diculik oleh penculik pak. Ibuku langsung datang menghampiriku, nak kamu kembali ke kamar dan ridur lah lagi pasti kamu lelah. “Tidak, Bu” jawabku dengan suara agak pelan. Ya sudah ibu buatkan kamu segelas susu dan Nasi goring untukmu, kamu mau tidak. Mau…., Tunggu sebentar, ya nak. Selagi aku menunggu nasi goring dan susu yang baru dibuat ibuku, aku bercerita kepada ayahku. “ yah, kemarin sian ayah sama adik pergi kemana saja, aku cari kemana-mana tidak ada, sampai-sampai au diculik.” Kataku kepada ayah. Ayah pergi ke Rumah teman ayah bersama adikmu. Kok, Ayah tidak bilang kalau mau pergi kerumah temen ayah. “ Maaf ya nak, Ayah sudah menghubungi kamu tettapi kamu tidak menjawab teleponku.” Jawab ayahku. Selesai bercerita bersama ayah akhirnya nasi goring serta susu kesukaanku sudah disiapkan di meja makan. Aku dan ayah segera menuju kesana, aku dan adik-adiku makan bersama-sama serta ayah-ibuku.” Nasi gorengnya enak sekali ,Buk.” Tanyaku kepada ibukku. Lain kali ibu buatkan lagi mau tiadak. Mau buk. Selesai makan akupun menuju kamar tidurku. Sebelum tidur aku harus membereskan kamarku terlebih dahulu. Selanjutnya akupun tertidur nyenyak ditempat tidur kesayangannku. Di pagi harinya aku terlihat lebih sehat dan kuat daripada yang kemarin.
“ Nah inilah akhir dari cerita pendekku. Semoga bias menjadikan contoh ang baik. Seperti halnya, kalau berpergian itu semua pintu rumah harus dikunci, agar tidak terjadi kerampokan.”

Terima Kasih